Senin, 05 November 2012

Politik Di Era Mediasi- Komunikasi Politik


NAMA                                   : SUKMIKA MARDALENA
NIM                                        : 110111494
JURUSAN                             : HUBUNGAN INTERNASIONAL
MATA KULIAH                  : KOMUNIKASI POLITIK

POLITIK DI ERA MEDIASI
Komunikasi Politik merupakan sebuah istilah yang tergolong sulit untuk didefinisikan. Penyebabnya sederhana saja: dua unsur ungkapan tersebut  yaitu komunikasi dan politik, kedua kata tersebut dapat di artikan ke dalam beragam definisi.  Denton dan Woodward contohnya, mendefinisikan komunikasi politik sebagai:
            “diskusi politik tentang alokasi sumber-sumber daya (pendapatan) publik, kewenangan resmi ( siapa yang diberikan kekuasaan untuk membuat keputusan eksekutif, legislatif, dan legal), dan sanksi-sanksi resmi (hukuman dan ganjaran dari negara).” (1990,hlm.14). Ia juga menambahkan bahwa “faktor penting yang menandai komunikasi “politik” bukanlah sumber pesan, tapi kepada isi dan tujuan. (1990,hlm.11)
               Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa komunikasi politik adalah segala bentuk komunikasi yang memiliki content politik, atau memiliki tujuan-tujuan yang berhubungan dengan kegiatan politik. Tidak hanya terkait dengan pernyataan tertulis atau verbal, tapi juga alat pemaknaan visual seperti pakaian, make up, gaya rambut, desain dan logo, semua merupakan elemen komunikasi yang bisa dikatakan menjadi pengganti “citra” atau identitas politik.
               Kajian komunikasi politik mengarahkan kita pada hubungan antara tiga elemen yaitunya organisasi politik, masyarakat atau khalayak dan media.
 
1.      Organisasi Politik
               Organisasi Politik adalah lembaga-lembaga yang di dalam nya terdapat aktor-aktor politik. Aktor politik adalah individu-individu yang, melalui sarana institusi dan organisasi, berkeinginan memengaruhi proses pembuatan keputusan. Mereka berupaya melakukannya dengan cara mendapatkan kekuasaan politik lembaga, baik lembaga eksekutif maupun legislatif, di mana kebijakan-kebijakan terpilih bisa diimplementasikan. Jika tidak, maka para aktor bertujuan menghalangi pemegang kekuasaan yang ada dan membuat mereka terjungkal dan kekuasaannya (digantikan oleh yang lain). Masuk dalam kategori aktor politik adalah partai-partai politik yang mapan: kumpulan individu dengan pemikiran yang kurang Iebih sama, yang bergabung dalam sebuah struktur ideologis dan organisasional yang disepakati bersama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Tujuan-tujuan ini akan merefleksikan sistem nilai atau ideology yang mendasari partai.
               Selain partai politik, Aktor-aktor politik juga mencakup sejumlah organisasi nonpartai dengan tujuan politis, atau biasa disebut dengan Organisasi Masyarakat. Organisasi ini tidak memiliki tujuan untuk berkuasa, tapi tetap memiliki kepentingan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan politik. Contohnya adalah LSM atau NGO yang mengawasi kinerja pemerintah. Selain ¡tu, ada juga yang disebut kelompok penekan. Berbeda dengan organisasi publik, mereka kurang terlembagakan dan jelas-jelas memiliki tujuan yang lebih politis, terfokus pada isu-isu tertentu yang spesifik seperti isu lingkungan, perlindungan terhadap hewan dan lain-lain. Sedangkan Terminologi “Organisasi Teroris” merujuk kepada aktor politik nonpartai yang menggunakan taktik-taktik terror yang paling umum di antaranya berbentuk pemboman, pembunuhan, penculikan untuk mencapai tujuan politik mereka. Para aktor-aktor politik yang tercakup dalam organisasi politik tersebut melakukan komunikasi dengan khalayak (warga) untuk mencapai tujuan tertentu.
                Pada era modern, kegiatan ini hanya bisa dilakukan melalui media massa. Hal ini berhubungan dengan judul dan Bab ini, yaitu Politik di era mediasi. McNair menyebutkan bahwa dalam era modern seperti sekarang ini, dimana banyak Negara menjunjung tinggi demokrasi dan Hak asasi manusia, kegiatan komunikasi politik tidak lagi bersifat interpersonal. 
 
2.      Masyarakat atau Khalayak
               Adapun tujuan utama dari komunikasi politik adalah untuk membujuk dan meyakinkan. Dan tentu saja target persuasi ini adalah khalayak yang merupakan elemen kedua dari proses komunikasi politik. Dengan kata lain komunikasi politik juga bertujuan untuk mendapatkan respon dari khalayak. Namun masalah respon tersebut merupakan hal yang sangat kompleks dan tidak pernah berakhir kontroversinya. Dalam komunikasi politik penafsiran khalayak terhadap suatu pesan dapat bersifat ambigu, sangat sulit untuk diteliti secara empiris. Maka disini peran actor-aktor dalam komunikasi politik sangat penting agar dapat membujuk dan meyakinkan pemikiran khalayak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Selain itu pentingnya citra visual politisi dalam membentuk persepsi pemilih, serta liputan media juga dapat mempengaruhi perspektif khalayak dalam menerjemahkan pesan yang ingin disampaikan oleh para aktor komunikasi politik.
                                                                                                                        
3.      Media
Dalam system politik demokrasi media sangat berpengaruh sebagai penyalur komunikasi politik yang berasal dari luar organisasi itu sendiri dan sebagai pengirim pesan politik yang dilakukan oleh wartawan. Para actor politik menggunakan media untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan terhadap audien.
Media dalam melaporkan harus dengan cara yang nertal dan tidak memihak terhadap apapun yang terjadi dalam arena politik di sekitar mereka. Hal ini berlaku baik media cetak dan penyiaran. Namun dampak dari penyampaian pesan melalui media akan berbeda-beda. Antara pengiriman pesan politik dan penerimaan oleh penonton, bisa saja sesuatu terjadi dan mengubah pesan dalam berbagai cara. Secara sadar atau sebagai konsekuensi dari proses produksi media sehingga menghasilkan arti yang berbeda pula oleh khalayak.
Selain itu, media juga sangat penting dalam proses politk sebagai penyalur aspirasi baik tuntutan maupun dukungan dari masyarakat terhadap para pemimpin politik mereka. Misalnya saja, media dapat mengklaim untuk mewakili “opini publik” yang mengambil status  suatu fakta yang digunakan untuk memahami atau mengevaluasi situasi politik. Dengan cara ini, pandangan masyarakat dapat dikomunikasikan ke atas. Oleh sebab itu maka pemahaman tentang proses politik akan sangat sulit dipahami tanpa analisis media.
KESIMPULAN
            Komunikasi politik mempunyai arti yang sangat luas. Tidak hanya menyampaikan  pesan- pesan politik terhadap khalayak akan tetapi juga dibutuhkan ‘citra’  yang positive juga bagi seorang komunikator politik agar pesannya dapat diterima dengan baik oleh khalayak.
Terdapat tiga elemen penting dalam komunikasi politik yaitunya organisasi politik, khalayak dan media. Dimana ketiga elemen tersebut saling berkaitan satu sama lain. Organisasi politik yang di dalamnya terdapat aktor-aktor politik berusaha untuk mendapatkan perhatian dari khalayak melalui media. Namun pesan-pesan politik yang mereka sampaiakan belum tentu mendapatakan respon yang sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Bisa saja terjadi kesalahpahaman antara pesan yang disampaikan para komunikator politik dengan penafsiran dari khalayak. Oleh sebab itu peranan media sebagai pengantar pesan politik yang netral dan tidak memihak sangat penting dalam proses politik
Referensi :
McNair, Brian. 2011. An Inrtoducion to Political Commucation. New York: Routledge Taylor and Francais Group

Tidak ada komentar: